Bab Tokoh Modern: Immanuel Kant
Ketika Filsafat Bertanya Tentang Diri dan Nilai Hidup
Setelah Descartes menegakkan fondasi berpikir rasional, muncul pertanyaan baru: jika manusia berpikir bebas, bagaimana dengan moralitasnya? Di abad ke-18, Immanuel Kant (1724–1804) menjawabnya dengan visi luar biasa — bahwa kebebasan sejati bukanlah melakukan apa pun yang kita mau, melainkan mengikuti hukum moral yang kita berikan kepada diri sendiri.
1. Rasio Praktis dan Hukum Moral
Kant menolak pandangan bahwa moral tergantung pada akibat atau perasaan. Bagi dia, moral berasal dari rasio praktis — kemampuan akal untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan. Ia menyebutnya sebagai imperatif kategoris: “Bertindaklah hanya menurut asas yang dapat kau kehendaki menjadi hukum universal.”
Artinya, sebelum bertindak, kita harus bertanya: apakah tindakan ini pantas jika dilakukan oleh semua orang? Jika jawabannya ya, maka tindakan itu bermoral. Jika tidak, maka kita melanggar kebebasan moral kita sendiri.
2. Kebebasan sebagai Tanggung Jawab
Kant menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk alamiah, tapi juga makhluk rasional. Kita punya kehendak bebas, dan karena itulah kita bertanggung jawab atas pilihan kita. Moralitas bukan paksaan dari luar, melainkan kesadaran batin — suara akal yang memerintah dengan lembut: “Engkau harus.”
Dalam pandangan Kant, kebebasan bukan lawan dari aturan, tetapi justru muncul karena kita mampu membuat aturan untuk diri sendiri.
3. Antara Dunia Fenomena dan Noumena
Dalam filsafat pengetahuannya, Kant membedakan dua dunia: fenomena (dunia yang tampak bagi indera) dan noumena (dunia sebagaimana adanya, yang tak bisa dijangkau langsung). Kita tak pernah tahu realitas sejati, tapi akal memberi struktur pada pengalaman kita tentang dunia.
Dengan demikian, manusia bukan sekadar penerima kenyataan, melainkan pembentuk cara kenyataan itu tampak. Filsafat Kant menandai pergeseran besar: dari “apa yang kita ketahui” menjadi “bagaimana kita mengetahui”.
4. Relevansi di Dunia Modern
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh relativisme, pemikiran Kant tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa kebebasan sejati adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar pilihan bebas. Di saat banyak nilai tergeser oleh pragmatisme, Kant memanggil kita kembali pada akal budi dan nurani.
“Dua hal yang selalu mengagumkan saya: langit berbintang di atas, dan hukum moral di dalam diri saya.” — Immanuel Kant
🧭 Peta Bacaan: Filsafat Modern
-
Descartes — Rasio dan Keraguan
Menemukan kepastian dalam kesadaran diri.
-
Kant — Moral dan Kebebasan
Kebebasan sejati lahir dari ketaatan pada hukum moral diri.
-
Nietzsche — Nilai Hidup dan Kehendak Berkuasa
Membangun kembali nilai hidup dari kehendak manusia yang kuat.
📚 Referensi Singkat
- Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals
- Immanuel Kant, Critique of Pure Reason
- Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction
